Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Juni 2010

PUASA RAJAB

Besuk kita akan memasuki Bulan Rajab. Bulan Rajab merupakan salah satu bulan Muharram, yang artinya dimulyakan (Ada 4 bulan: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Puasa dalam bulan Rajab, sebagaimana dalam bulan-bulan mulya lainnya, hukumnya sunnah.

Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda : "Puasalah pada bulan-bulan haram(mulya)." (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hadis lainnya adalah Riwayatnya an-Nasa'i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): "Usamah berkata pada Nabi saw, 'Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunat) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya' ban.' Rasul menjawab: 'Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.'"

Menurut al-Syaukani (Naylul Authar, dalam bahasan puasa sunat) ungkapan Nabi "Bulan Sya' ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang" itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya. Ada beberapa hadis lain yang menerangkan keutamaan bulan Rajab. Seperti berikut ini:

"Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka Jahim, bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu sorga, dan bila puasa 10 hari maka digantilah dosa-dosanya dengan kebaikan".

Riwayat al-Thabrani dari Sa'id bin Rasyid: "Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab maka laksana ia puasa setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka Jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu sorga, bila puasa 10 hari Allah akan mengabulkan semua permintaannya....."

"Sesugguhnya di sorga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut".

Riwayat (secara mursal) Abul Fath dari al-Hasan, Nabi saw berkata: "Rajab itu bulannya Allah, Sya' ban bulanku, dan Ramadan bulannya umatku." Hadis-hadis tersebut dha'if (kurang kuat) sebagaimana ditegaskan oleh Imam Suyuthi dalam kitab al-Haawi lil Fataawi.

Ibnu Hajar, dalam kitabnya "Tabyinun Ujb", menegaskan bahwa tidak ada hadis (baik sahih, hasan, maupun dha'if) yang menerangkan keutamaan puasa di bulan Rajab. Bahkan beliau meriwayatkan tindakan Sahabat Umar yang melarang menghususkan bulan Rajab dengan puasa.

Ditulis oleh al-Syaukani, dlm Nailul Authar, bahwa Ibnu Subki meriwayatkan dari Muhammad bin Manshur al-Sam'ani yang mengatakan bahwa tak ada hadis yang kuat yang menunjukkan kesunnahan puasa Rajab secara khusus.

Disebutkan juga bahwa Ibnu Umar memakruhkan puasa Rajab, sebagaimana Abu Bakar al-Tarthusi yang mengatakan bahwa puasa Rajab adalah makruh, karena tidak ada dalil yang kuat. Namun demikian, sesuai pendapat al-Syaukani, bila semua hadis yang secara khusus menunjukkan keutamaan bulan Rajab dan disunahkan puasa di dalamnya kurang kuat dijadikan landasan, maka hadis-hadis yang umum (spt yang disebut pertamakali di atas) itu cukup menjadi hujah atau landasan. Di samping itu, karena juga tak ada dalil yang kuat yang memakruhkan puasa di bulan Rajab.

Sumber : pesantrenvirtual.com

Minggu, 04 Januari 2009

ADIL DALAM ISLAM

Diberbagai surah dalam Al qur an, Allah subhanahu wata'ala memerentahkan kita, untuk berbuat adil dan berbuat kebajikan terhadap keluarga, teman, bahkan musuh sekalipun. Di antaranya adalah:
Firman Allah azza wajalla yang artinya:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adìl dan berbuat kebaikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah azza wajalla melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu mengambil pelajaran. (An nahl: 90)

Adil itu relatif, oleh karena itu alangkah baiknya sebelum berbicara keadilan lebih dulu kita pahami !
Apa ?
Mengapa ?
Dimana ? dan
Bagaimana ?

Setelah menemukan dan dapat menjawab empat pertanyaan diatas maka akan diketemukan apa itu adil.

Adil dalam bahasa arab, berasal dari: ADALA: YA'DILU: ADLAN: FAHUWA: ADILUN. yang berarti: Tegak, Lurus. Tegak mengandung makna, menjalankan syari'at islam dengan sungguh sungguh. Lurus berarti, sesuai dengan tuntunan Rasulullah alaisshalatu wassalam.

Dari uraian kata diatas dapat di simpulkan bahwa, Adil adalah: Menjalankan syari'at/hukum-hukum ìslam sesuai dengan tuntunan Rasulullah alaihisshalatu wassalam.

Firman Allah azza wajalla yang artinya: ...dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan..... (Al baqoro: 263) Lalu bagaimana keadilan di tengah-tengah masyarakat yang multi agama ? silahkan poskokan komentar anda!

Senin, 29 Desember 2008

PUASA 'ASYURA

Azh-Zhain bin Al-Mughirah berkata : " Pendapat terbanyak mengatakan bahwa yang dimaksud 'Asyura adalah tanggal 10 ( sepuluh ) pada bulan Muharram, dan pendapat ini lebih sesuai jika dilihat dari akar kata dan penamaannya ".

Hukum Puasa 'Asyura

Para ulama sepakat bahwa hukum puasa 'Asyura adalah sunnah. Mereka berbeda pendapat mengenai hukumnya pada masa permulaan Islam, tatkala disyariatkan sebelum disyariatkannya puasa Ramadhan.
Abu Hanifah berpendapat bahwa pada awalnya diwajibkan, kemudian dihapus. Dan diriwayatkan dari Imam Ahmad akan sunnahnya, begitu juga ucapan jumhur ulama, karena Rasulullah SAW tidak memerintahkan secara umum tentang puasa tersebut. Bahkan beliau bersabda : " Hari ini adalah hari 'Asyura, dan saya puasa pada hari tersebut. Siapa yang suka maka hendaklah puasa dan siapa yang suka dia berbuka ".
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : " Disunnahkan bagi yang puasa pada hari 'Asyura untuk berpuasa pada tanggal Sembilannya, karena hal tersebut adalah perintah Rasulullah SAW yang paling akhir ".

Hikmah Puasa 'Asyura

Puasa 'Asyura disunnahkan karena pada hari tersebut terjadi beberapa kejadian yang baik, diantaranya : selamatnya Musa AS dan para pengikutnya, serta tenggelamnya musuh Allah SWT, Fir'aun beserta kaumnya. Begitu juga terjadinya beberapa tanda-tanda kebesaran Allah SWT terhadap makhluknya, sesuatu yang layak untuk disyukuri.
Sedangkan puasa tanggal sembilannya adalah untuk menjaga puasa 'Asyura dan untuk menunjukkan sikap berbeda dari orang-orang Yahudi yang juga berpuasa pada hari itu saja. Dengan menggabungkan kedua hari itu maka syariat tersebut menjadi berbeda dari ajaran Yahudi.

Keutamaan Puasa 'Asyura

Terdapat riwayat dalam Shahih Muslim dari Abi Qatadah bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang puasa 'Asyura, maka beliau bersabda : " Saya berharap agar Allah SWT menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya ".

Urutan Derajad Puasa 'Asyura

Derajad Pertama.
Ini adalah derajad yang paling utama yaitu dengan melakukan puasa 3 ( tiga ) hari pada tanggal 9, 10 dan 11.

Derajad Kedua.
Yaitu berpuasa 2 ( dua ) hari pada tanggal 9 dan 10. Ini sesuai dengan hadits riwayat Muslim dari Ibnu Abbas RA, dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : " Jika saya masih ada pada tahun depan, saya akan berpuasa pada tanggal sembilannya ( bersama tanggal sepuluh ) ". Dan dari Ibnu Abbas juga, beliau bersabda : " Puasalah kalian pada tanggal 9 dan 10, bedakanlah dari orang-orang Yahudi ".

Derajad Ketiga.
Yaitu dengan berpuasa pada tanggal 10 saja. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, dia berkata : " Kami diperintahkan Rasulullah SAW untuk berpuasa pada hari 'Asyura ".

Apa Derajad Yang Paling Utama?

Yang paling utama dari ketiga derajad tersebut adalah derajad yang pertama. Karena berpuasa pada hari-hari tersebut akan mendapatkan beberapa manfaat, diantaranya :

1. Akan mendapatkan pahala puasa sebulan penuh. Sebagaimana riwayat Abdullah bin Amr bin Ash RA, dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : " Tiga hari pada setiap bulan bagaikan puasa selamanya ".

2. Karena puasa 'Asyura adalah puasa yang utama setelah puasa Ramadhan. Ibnu Abbas RA berkata : " Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW memperhatikan sebuah puasa dan mengutamakannya atas yang lainnya kecuali hari ini, yaitu hari 'Asyura, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan ".

3. Menunjukkan sikap berbeda dari orang-orang Yahudi. Sebagaimana Ibnu Abbas RA berkata : " Berpuasalah kalian sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya ".

4. Mengikuti jejak Rasulullah SAW yang merupakan sunnahnya, dengan mengamalkannya dan mendakwahkannya sebagai bentuk ibadah yang utama kepada Allah SWT.

5. Dapat menghapus dosa-dosa setahun penuh, berdasarkan hadits riwayat Qatadah RA, dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : " Dan hari 'Asyura dapat menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya ".

Jadi, kesimpulannya adalah tidak ada keutamaan yang lain pada hari 'Asyura kecuali hanya BERPUASA. Ingat! BERPUASA! Titik.

Minggu, 07 Desember 2008

I K H L A S

Ikhlas adalah sebuah kata yang mudah diucapkan dan ditulis. Namun disisi lain, ikhlas adalah sesuatu hal yang paling berat serta sulit bagi jiwa untuk melakukannya. Dan memang begitulah kenyataannya. Sebagaimana seorang ulama pernah ditanya : "Apakah sesuatu yang paling berat bagi jiwa?" Maka ulama tersebut menjawab : "Ikhlas, sebab dengan ikhlas itu jiwa tidak mendapat bagian apa-apa". Ucapan ulama tersebut memang benar. Karena dengan ikhlas anda tidak akan mendapatkan bagian apa-apa dari sisi manusia, namun disisi Allah SWT, anda akan diberi pahala yang tak terbatas.

APA DEFINISI IKHLAS ITU?

Definisi ikhlas sangat banyak, antara lain :
1. Menyendirikan Allah SWT sebagai tujuan dalam ketaatan.
2. Membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk.
3. Menjaga amal dari perhatian manusia dan termasuk pula diri sendiri.
4. Seseorang bermaksud melalui ibadahnya untuk bertaqarrub ( mendekatkan diri ) kepada Allah SWT dan mendapat keridhaan-Nya.
5. Sesuatu yang paling mulia didunia.
6. Rahasia antara Allah SWT dan Hamba-Nya yang tidak diketahui, kecuali oleh Malaikat yang mencatatnya.
7. Membersihkan amal dari segala campuran.

Begitulah berbagai definisi ikhlas. Anda tidak perlu bingung menghadapinya, karena meskipun pengertiannya berbeda-beda, akan tetapi tujuannya sama, yaitu untuk bertaqarrub hanya kepada Allah SWT dan mengharap ridha dan pahala dari-Nya.
Singkat makna, ikhlas itu adalah anda beramal dan beribadah dengan niatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan dosa, mengharap ridha-Nya dengan cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan berusaha untuk menghindari dari sanjungan dan pujian dari orang lain.

Lalu bagaimana dengan contoh-contoh dibawah ini?
1. Seseorang yang beribadah seperti sholat, puasa, berdzikir dan lain-lain, tetapi dia berharap ingin dipilih menjadi Presiden, Gubernur atau Bupati/Walikota. Apakah ibadahnya itu termasuk ikhlas?
2. Seseorang yang beramal seperti memberikan uang, beras, sarung dan lain-lain, tetapi dia berharap supaya dipilih menjadi anggota DPR. Apakah amalnya termasuk ikhlas?
3. Seseorang yang berdzikir, dia mengeraskan bacaannya dan mengangguk-anggukkan kepalanya agar didengar dan dilihat orang lain. Apakah dzikirnya termasuk ikhlas?

Anda ingin menanggapi?

Silahkan diposkan/ditulis di Ruang Komentar sepuas-puasnya!

Selasa, 25 November 2008

PEMIMPIN PEREMPUAN

Pemimpin perempuan masih diperdebatkan.
Dikalangan ormas islam perbedaan pandangan/ pendapat merupakan RAHMAH, termasuk soal kepemimpinan wanita,
Alasan mereka yang tdk membolehkan perempuan menjadi pemimpin. Mereka beralasan bahwa;
a. Perempuan tdk bleh menjadi imam dlm sholat.
b. Belum pernah ada nabi perempuan.
c. (Arrijaalu qowwaamuuna a'lannisa') bahwa laki laki lebih kuat daripada wanita.
Ada juga yang membolehkan, mereka beralasan;
a. Kholifah bumi ini bukan cuma Adam / Laki laki tapi juga Siti Hawa/ perempuan,
b. Alasan diatas tidak dapat dijadikan alasan ketidakbolehan perempuan jadi pemimpin.
Ada hadits yang artinya; Wanita adalah tiang negara, jika wanita itu baik maka majulah negara, dan jika wanita itu rusak maka hancurlah negara,
Dari berbagai alasan diatas saya ingin mengatakan bahwa; perbedaan pandangan itu disebakan oleh situasi, kondisi, ilmu/pengetahuan, dan latarbelakang yang berbeda pula, takterkecuali dalam hukum ìslam. Lalu bagaimana kepemimpinan perempuan menurut anda? dlm kondisi seperti sekarang?

Rabu, 12 November 2008

KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

Pada dasarnya seorang manusia adalah pemimpin. Manusia adalah pemimpin untuk dirinya sendiri. Disamping itu kita mesti memimpin diri orang lain agar kehidupan kita didunia ini dapat seimbang menuju kearah yang lebih baik.

MANUSIA SEBAGAI KHOLIFAH

Setiap manusia dimuka bumi ini dijadikan oleh Allah SWT untuk menjadi kholifah atau pemimpin. Sama saja dia memimpin dirinya sendiri atau orang lain, ia dinamakan sebagai kholifah atau pemimpin. Namun begitu, tidak semua manusia mampu memimpin dirinya sendiri dan orang lain dengan baik mengikuti landasan islam yang sebenarnya. Dunia akan kocar-kacir jika semua manusia ingin menjadi pemimpin dan enggan menjadi orang yang dipimpin atau lebih dikenali sebagai orang bawahan. Oleh karena itu, Allah SWT dengan sifat bijaksananya telah mengatur dan menentukan kehidupan manusia mengikuti acuan kepribadian yang asasi atau dasar sejak dari lahir. Ada segolongan manusia yang dilantik menjadi pemimpin, golongan lain sebagai yang dipimpin dan golongan yang mengadu domba enggan menjadi pemimpin dan enggan dipimpin.

PERSIAPAN SEBELUM MENJADI PEMIMPIN

Masalah utama yang perlu ditekankan sebelum kita menjadi pemimpin adalah kesiapan kita. Kita wajib membuat persiapan awal dan menempuh berbagai ujian sebelum layak digelari pemimpin dunia akhirat. Pada akhir jaman ini, mayoritas pemimpin sebenarnya tidak layak memimpin. Kenapa? Karena mereka tidak terpimpin dengan pimpinan dari Al-qur'an dan As-Sunnah. Mereka hanyalah pemimpin dunia semata. Mereka mengejar kemewahan dunia, menindas orang bawahan, bertopengkan syaitan dalam menentukan hukum-hukum islam dan seribu satu macam keburukan berupa keduniaan. Pemimpin yang zalim termasuk didalam keburukan agama. Sedangkan pemimpin akhirat tidak banyak dan bisa dihitung dengan jari.
Lalu, apa syarat-syarat untuk menjadi pemimpin dunia akhirat?

1. Pemimpin Berilmu.

Ilmu memainkan peranan penting dalam melahirkan pemimpin yang unggul. Tanpa ilmu, pemimpin akan seperti "kerbau dicocok hidungnya". Hanya memimpin setelah diarah-arahkan oleh orang lain. Berapa banyak pemimpin di seantero dunia yang menjadi boneka? Mereka menjadi pemimpin, tetapi tidak memimpin. Mereka itu pengecut dan rela menjual nama agama demi sesuap nasi. Allah berfirman : "Adakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?" Ilmu disini meliputi ilmu dunia dan akhirat. Seorang pemimpin yang berilmu pasti mendapat kepercayaan dari masyarakat untuk mengatasi semua masalah yang menimpa wilayah kekuasaannya. Baik itu masalah ditingkat RT/RW, Desa, Kabupaten/Kota, Propinsi sampai negara bahkan tingkat dunia sekalipun.

2. Pemimpin Sebagai Idola.

Dikalangan masyarakat menengah, mereka lebih mementingkan pemimpin yang peka dengan isu-isu dunia dan pandai berbicara dalam hal-hal keduniaan. Tanpa disadari, kita sebenarnya haus dengan seorang pemimpin yang bersifat universal, seimbang antara dunia dan akhirat.
Seorang pemimpin yang menjadi idola masyarakat, seharusnya memiliki akhlak yang terpuji dan mengikuti adab-adab kemanusiaan. Seorang pemimpin harus sama dalam berbicara dan prakteknya. Seorang pemimpin harus mengamalkan apa yang diucapkannya. Seorang pemimpin harus menjadi tauladan bagi rakyat yang dipimpinnya. Jangan sampai ada seorang pemimpin yang mengajak rakyatnya untuk selalu hidup rukun dan bersatu, sedangkan dia sendiri malah sering bertengkar dengan istrinya, anak-anaknya, tetangganya, bahkan dengan orang yang tidak dikenalnya sekalipun.

3. Pemimpin Sanggup Menghadapi Cobaan.

Ujian adalah satu perkara yang pasti memburu kehidupan seorang manusia. Semakin tinggi derajadnya disisi Allah SWT dan disisi masyarakat, maka semakin besar pula cobaan dan godaan yang ditempuh. Seorang pemimpin harus kuat jiwanya dan besar semangatnya, agar dia tetap kekal dalam memimpin rakyatnya.
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan, harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar", Al-Baqarah : 155.

Itulah pemimpin yang berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Lalu, pemimpin yang seperti apa yang anda dambakan?
Sekian, terima kasih.